Pendidikan dan Pengajaran
Oleh : Lina Muntasiroh
Banyak sekali definisi yang diberikan terkait Pendidikan mulai dari pakar, filsuf, akademisi, sampai politisi. Hanya saja tak semua memahami betul apa hakekat pendidikan itu, bagaimana ruang lingkupnya dan apa saja elemen yang termuat didalamnya. Pembodohan siswa yang tersistematis buku karya Joko Susilo yang pernah saya baca mendetail sekali menjelaskan bobroknya segudang aturan yang ada dinegara ini. Mulai dari obral ijasah, jual beli nilai, mengubah kurikulum, guru yang tidak berkualitas dan orientasi bisnis dalam pendidikan menjadi pelengkap rusaknya pendidikan kita selama ini. Sekolah dalam anggapan banyak orang tua mungkin merupakan harapan satu-satunya bagi pendidikan anak agar dapat meraih masa depan yang gemilang. Namun, celakanya harapan tersebut tampaknya mulai sirna. Sekolah tidak lagi berdaya untuk memberikan harapan-harapan juga tidak berdaya menghasilkan manusia yang tangguh menghadapi tantangan baik moral maupun intelektual. Angka pengangguran pun terus melambung tinggi. Lantas siapa yang disalahkan? Sekolah? Orang tua? Siswa? Ataukah guru?
Perilaku pembodohan siswa yang tersistematis telah menjadi penyebab bagi gagalnya pendidikan anak bangsa yang berkualitas. Perilaku pembodohan tersebut kini bahkan sadar tidak sadar telah mendarah daging dalam praktik pendidikan di Indonesia. Guru yang asal mengajar juga bergantinya penguasa yang tidak banyak membawa perubahan hanya sekadar berganti-ganti kurikulum.
Kali ini saya mencoba sedikit menjelaskan pendidikan menurut hemat saya setelah mendapat pengajaran dari Bapak Aniq KHB. Mendidik berati menemani. Sama halnya ketika kita pada posisi orang tua yang mendidik anak, itu berarti kita mendampingi secara penuh dan secara terus menerus pada proses tumbuh kembang anak. Tidak serta merta mendekte anak agar begini dan begini. Sama hal nya yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara bahwa Pendidikan adalah satu daya upaya yang dilakukan secara terus menerus untuk memajukan pertumbuhannya. Diantaranya:
1.Budi pekerti ( Karakter)
2. Intelektual (Pikiran)
3. Soal raga (apa yang ada didalam tubuh).
Dalam pemberian makna pada istilah proses pembelajaran adalah kesalahan yang cukup membuat rancu. Pasalnya pada istilah yang sangat sering digunakan ini memiliki pengertian yang tidak bisa dibenarkan. Pembelajaran yang harusnya hanya dilakukan oleh siswa bukan adanya keterlibatan guru. Sedang guru adalah pihak yang melakukan pengajaran yang memberikan transfer keilmuan, bisa dilihat pada istilah RPP. Dan pengajaran sebagai mana dimaksud hanya memiliki titik focus cakupan dari pendidikan yang skalanya masih didasar.masih banyak cakupan lain yang harus dipenuhi agar tujuan dari Pendidikan nasional ini bisa tercapai dengan sebaik-baiknya.
Pendidikan bukan hanya transfer keilmuan namun juga pola tingkah laku dalam bentuk kesatuan yang seharusnya tidak bisa dipisahkan. Hal ini lebih memiliki kecenderungan pada kata Mengayomi. Bahkan jika kita menilik ulang pada firman Allah surat An-nash yang disana digambarkan tentang urutan kepemilikan dari setiap kalimat Al-Quran dari kalimah Rabb(Mengayomi)-Malik(memiliki)-ilahi(Menguasai). Sudah sangat gamblang bahwasanya cara terbaik sebagaimana sudah disampaikan Allah dalam firmannya adalah memberikan pengayoman. Bukan merasa memiliki sehingga bisa semena-mena, bahkan menguasai agar bisa secara mutlak seutuhkan.
Manusia diciptakan hanya tentang keraguan, itu sebabnya tak sedikit keraguan yang ditimbulkan manusia itu sendiri yang kurang berpijak pada keyakinan yang sudah diberikan. Tak ada usaha lebih yang membuat manusia terkadang tidak bisa disebut manusia. Terlalu berkutat pada symbol yang menyebabkan hilangnya esensi arti yang seyogyanya dimengerti.
Al yaqinu la yuzalu bissyak. Dalam kitab qowaidul fihiyah yang sempat saya fahami. Jika tidak mampu manusia sebatas hewan yang mengedepankan nafsu, tak ada sisi kemanusiaan. Al insane hayawanu natiq. Seharusnya begitulah.
Oleh : Lina Muntasiroh
Banyak sekali definisi yang diberikan terkait Pendidikan mulai dari pakar, filsuf, akademisi, sampai politisi. Hanya saja tak semua memahami betul apa hakekat pendidikan itu, bagaimana ruang lingkupnya dan apa saja elemen yang termuat didalamnya. Pembodohan siswa yang tersistematis buku karya Joko Susilo yang pernah saya baca mendetail sekali menjelaskan bobroknya segudang aturan yang ada dinegara ini. Mulai dari obral ijasah, jual beli nilai, mengubah kurikulum, guru yang tidak berkualitas dan orientasi bisnis dalam pendidikan menjadi pelengkap rusaknya pendidikan kita selama ini. Sekolah dalam anggapan banyak orang tua mungkin merupakan harapan satu-satunya bagi pendidikan anak agar dapat meraih masa depan yang gemilang. Namun, celakanya harapan tersebut tampaknya mulai sirna. Sekolah tidak lagi berdaya untuk memberikan harapan-harapan juga tidak berdaya menghasilkan manusia yang tangguh menghadapi tantangan baik moral maupun intelektual. Angka pengangguran pun terus melambung tinggi. Lantas siapa yang disalahkan? Sekolah? Orang tua? Siswa? Ataukah guru?
Perilaku pembodohan siswa yang tersistematis telah menjadi penyebab bagi gagalnya pendidikan anak bangsa yang berkualitas. Perilaku pembodohan tersebut kini bahkan sadar tidak sadar telah mendarah daging dalam praktik pendidikan di Indonesia. Guru yang asal mengajar juga bergantinya penguasa yang tidak banyak membawa perubahan hanya sekadar berganti-ganti kurikulum.
Kali ini saya mencoba sedikit menjelaskan pendidikan menurut hemat saya setelah mendapat pengajaran dari Bapak Aniq KHB. Mendidik berati menemani. Sama halnya ketika kita pada posisi orang tua yang mendidik anak, itu berarti kita mendampingi secara penuh dan secara terus menerus pada proses tumbuh kembang anak. Tidak serta merta mendekte anak agar begini dan begini. Sama hal nya yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara bahwa Pendidikan adalah satu daya upaya yang dilakukan secara terus menerus untuk memajukan pertumbuhannya. Diantaranya:
1.Budi pekerti ( Karakter)
2. Intelektual (Pikiran)
3. Soal raga (apa yang ada didalam tubuh).
Dalam pemberian makna pada istilah proses pembelajaran adalah kesalahan yang cukup membuat rancu. Pasalnya pada istilah yang sangat sering digunakan ini memiliki pengertian yang tidak bisa dibenarkan. Pembelajaran yang harusnya hanya dilakukan oleh siswa bukan adanya keterlibatan guru. Sedang guru adalah pihak yang melakukan pengajaran yang memberikan transfer keilmuan, bisa dilihat pada istilah RPP. Dan pengajaran sebagai mana dimaksud hanya memiliki titik focus cakupan dari pendidikan yang skalanya masih didasar.masih banyak cakupan lain yang harus dipenuhi agar tujuan dari Pendidikan nasional ini bisa tercapai dengan sebaik-baiknya.
Pendidikan bukan hanya transfer keilmuan namun juga pola tingkah laku dalam bentuk kesatuan yang seharusnya tidak bisa dipisahkan. Hal ini lebih memiliki kecenderungan pada kata Mengayomi. Bahkan jika kita menilik ulang pada firman Allah surat An-nash yang disana digambarkan tentang urutan kepemilikan dari setiap kalimat Al-Quran dari kalimah Rabb(Mengayomi)-Malik(memiliki)-ilahi(Menguasai). Sudah sangat gamblang bahwasanya cara terbaik sebagaimana sudah disampaikan Allah dalam firmannya adalah memberikan pengayoman. Bukan merasa memiliki sehingga bisa semena-mena, bahkan menguasai agar bisa secara mutlak seutuhkan.
Manusia diciptakan hanya tentang keraguan, itu sebabnya tak sedikit keraguan yang ditimbulkan manusia itu sendiri yang kurang berpijak pada keyakinan yang sudah diberikan. Tak ada usaha lebih yang membuat manusia terkadang tidak bisa disebut manusia. Terlalu berkutat pada symbol yang menyebabkan hilangnya esensi arti yang seyogyanya dimengerti.
Al yaqinu la yuzalu bissyak. Dalam kitab qowaidul fihiyah yang sempat saya fahami. Jika tidak mampu manusia sebatas hewan yang mengedepankan nafsu, tak ada sisi kemanusiaan. Al insane hayawanu natiq. Seharusnya begitulah.
Komentar
Posting Komentar