Nama   : Lina Muntasiroh
Npm    : 15120389
Siang kemarin begitu menarik, berbicara tentang manusia dan penciptaannya. Diawali dengan perdebatan pernyataan pakar dan segala bentuk analoginya. Jika menurutku menulis adalah sebuah ketrampilan yang menghasilkan karya dan didalam yang kuikutsertaan ruh agar tulisan ku bisa hidup. Barthes menyebut bahwa setelah mengahasilkan karya penulis itu akan mati, dan karya nya lah yang akan terus hidup. Namun, kurang sesuainya pernyataan diatas jika dipadu padankan dengan penciptaan Al Qur’an. Bagaimana kita bisa menganggap Allah SWT mati, sedang Allah memiliki sifat Baqa yang berarti kekal.
Jika benar-benar memahami hakekat filsafat, kia pasti mampu memahami hal-hal yang diluar batas kewajaran. Penciptaan akal yang sedemikian rupa. Kenapa diciptakan pula hati dan nurani, bahkan adanya nafsu. Kecenderungan dalam memperdalam ilmu filsafat tak jarang membuat para filsuf dianggap terlampau berbeda dengan manusia pada umumnya. Mereka cenderung menikmati hal-hal yang mereka anggap sesuai dengan sebuah hakekat hidup. Salah satunya puncak nafsu terbesar yaitu ketenangan. Para filsuf ini lebih menikmati kesendiriannya bercumbu dengan Tuhan, dengan jiwanya sendiri yang juga membuat mereka kehilangan hasrat pada kesenangan duniawi.
Setiap manusia mampu menekuni kesenangan nya masing-masing. Walaupun mereka lahir pada keadaan yang berbeda tak bisa dipungkiri bahwasanya mereka lebih mahir jika digandengkan dengan kecocokan dalam tujuan hidupnya tersebut. Seperti berkuliah di bidang kependidikan tak mutlak harus menempuh kehidupan sebagai guru, mereka bebas menentukan, baik sebagai pedagang, desainer, bahkan ustad sekalipun. Seperti pada Firman Allah Fastabiqul Khoirut, cepat-cepatlah dalam kebaikan.  Dapat disingkronkan jika sebagai pedangang nantinya rizki melimpah dan berkah yang menjadikan manusia yang gemar shoodaqoh kenapa harus memaksakan menjadi guru yang memang bukan basicnya yang menyebabkan tekanan dan ketidak ikhlasan. Semua dikembalikan pada pribadi masing-masing.
Yang terpenting selalu belajar pada cerita-cerita terdahulu, seperti tauladan habil ketika tengah berkompetisi dengan qobil. Baik tentang usaha kerasnya, keihlasan nya, dan kebaikannya. Cari dan gali bentuk kualitas yang ada pada diri, bukan kemengangan atas kuantitas sesaat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dongeng Bahasa Jawa kelas 2

Aku dan keakuanku

Huruf kapital