Pendidikan Nasional
Filsafat
Pendidikan
“Pendidikan
Nasional”
Jika membahas pendidikan pasti juga membahas tentang
bidang keilmuan. Ilmu bisa didapatkan dimana saja. Hanya saja untuk mendapat
ilmu sekarang ini didapat tak serta merta sekadar keinginan dari suatu pribadi.
Tapi adanya tuntutan finansial yang harus dituntaskan terlebih dahulu seperti
halnya bidang keilmuan yang kita peroleh dari bangku kuliah. Harus dibayar
sesuai urutan strata favoritas prodi. Ilmu bisa didapat salah satunya dengan
mendengarkan penyampaian baik dari guru maupun dosen, hanya saja tidak semua
narasumber bisa menjelaskan secara apik, dan pendengar tidak selamanya bisa
mudah mencerna dan mengingat apa yang telah disampaikan. Hingga terciptalahh
istilah “Orang diam belum tetu baik”, bisa jadi para pendiam itu tenga
menggunakan telinga dan pikirannya bekerja lebih keras disbanding berbicara
banyak hal tanpa ada isinya.
Selanjutnya filsafat pendidikan akan membahas point
pertama tentang Pendidikan nasional seperti urutan pembahasan yang terdapat
pada buku Ki Hajar Dewantara yang memiliki nama asli Suwardi Suryo Ningrat. Banyak
pemikiran yang beliau tulis sebagai acuan dalam dunia pendidikan di Indonesia,
hanya saja sekarang ini bangsa Indonesia lebih menyukai sesuatu yang berbau
luar negeri seperti buah pemikiran piaget dkk. Hal yang demikian ini lah yang
menjadikan pencurian secara terang-terangan sumber gagasan oleh Negara Finlandia
sebagai Negara yang basis pedidikan terbaik. Barulah Indonesia menyadari
kesalahan dan mengharuskan berguru pada muridnya sendiri. Begitulah kurang
lebihnya.
Banyak hal yang menarik pada pembahasan kemaren,
salah satu yag paling saya garis bawahi adalah bagian kecodongan pada dunia animasi
yang lebih menekankan pada sisi keperempuanan. Lalu ada apakah peran perempuan?
Sisi apa yang sebenarnya akan ditonjolkan? Atau pesan apakah yang akan disampaikan?
PR bersama yang perlu dikaji mendalam. Sehingga bisa diketahui bersama sejauh
apa peran perempuan pada Pembahasan Pedidikan ini.
Salam Perempuan!!!
Komentar
Posting Komentar